Website Resmi Pengadilan Agama Tanggamus

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf

Budaya Organisasi

E-mail Cetak PDF

Nilai Dan Budaya Organisasi

P

engadilan Agama Tanggamus sebagai salah satu organisasi pelaksana kekuasaan kehakiman di bawah naungan Mahkamah Agung mempunyai tugas dan tanggung jawab besar bagi terwujudnya badan peradilan yang agung dan dihormati sebagaimana telah dicita-citakan bersama. Maka agar cita-cita tersebut terlaksana secara efektif dan berdampak signifikan, maka perlu disepakati, dirumuskan dan diinternalisasikan corak budaya organisasi yang kompatibel dan mampu menggerakan seluruh aparatur badan peradilan untuk bertindak dan bekerja bersama secara sadar menuju realisasi cita-cita agung tersebut.

Konsep Budaya organisasi mulai berkembang sejak awal tahun 1980-an. Konsep ini diadopsi dari konsep budaya yang lebih dahulu berkembang dalam disiplin ilmu antropologi. Budaya organisasi dimaknai sebagai suatu sistem nilai suatu organisasi yang dianut oleh anggota organisasi yang berpengaruh terhadap cara kerja dan prilaku para anggota organisasi. Budaya organisasi berfungsi sebagai pembeda, pembentuk identitas, penyatu komitmen, perekat sosial, sekaligus sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku anggota organisasi bersangkutan. Secara garis besar budaya organisasi terdiri atas dua unsur yakni unsur idealistik yang abstrak dan unsur behavioral yang konkret, kasat mata dan muncul ke permukaan dalam bentuk tingkah laku.

Budaya organisasi yang dirumuskan oleh Pengadilan Agama Tanggamus didasarkan antara lain pada nilai-nilai idealistik yang bersumber dari konstitusi dan perundang-undangan yang dirumuskan sebagai nilai-nilai utama badan peradilan, bersumber dari nilai-nilai keagamaan (Islam), dan nilai-nilai etika, nilai-nilai budaya lokal yang luhur serta nilai-nilai tata kelola pemerintahan dalam kerangka realisasi good governance. Kemudian nilai-nilai tersebut dikaji, diinternalisasi dan dirumuskan ke dalam pola-pola perilaku yang disepakati secara kolektif oleh seluruh aparatur Penagdilan Agama Tanggamus.

Mahkamah Agung telah mengembangkan nilai-nilai utama peradilan yang diderivasikan dari ketentuan perundang-undangan yang diharapkan menjadi dasar perilaku seluruh aparatur badan peradilan sekaligus membentuk budaya badan peradilan. Nilai-nilai yang dimaksud adalah :

– Kemandirian Kekuasaan Kehakiman (Pasal 24 ayat (1) UUD 1945)

– Integritas dan Kejujuran (Pasal 24A ayat (2) UUD 1945; Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

– Akuntabilitas (Pasal 52 dan Pasal 53 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

– Responsibilitas (Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 5 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

– Keterbukaan (Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; Pasal 13 dan Pasal 52 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

– Imparsial/Ketidakberpihakan (Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

– Perlakuan yang sama di hadapan hukum (Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 52 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman)

Secara umum nilai-nilai utama peradilan tersebut sejalan dengan rumusan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang dibuat bersama oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial (047/KMA/SKB/IV/2009 dan 02/SKB/P.KY/IV/2009). Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim ini merupakan panduan keutamaan moral bagi hakim, baik dalam menjalankan tugas profesinya maupun dalam hubungan kemasyarakatan di luar kedinasan, walaupun secara eksplisit kode etik ini mengikat hakim namun sebagai suatu sistem kelembagaan dengan fungsi pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang integral, secara tidak langsung juga mengikat aparatur peradilan lainnya untuk memedomani kode etik tersebut. Secara garis besar 10 kode etik dan pedoman perilaku hakim sebagai berikut:

– Berperilaku adil

– Berperilaku jujur

– Berperilaku arif dan bijaksana

– Bersikap mandiri

– Berintegritas tinggi

– Bertanggungjawab

– Menjunjung tinggi harga diri

– Berdisiplin tinggi

– Berperilaku rendah hati

– Bersikap profesional

Pengadilan Agama Tanggamus sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman bagi para pencari keadilan yang beragama Islam atau mengikatkan diri dengan ketentuan hukum Islam dalam perkara-perkara tertentu sebagaimana digariskan oleh undang-undang yang secara material dilandaskan pada ketentuan dan prinsip-prinsip ajaran Islam (syaria’ah). Dengan sendirinya, nilai-nilai Islam menjadi ruh bagi tindakan dan kinerja aparatur Pengadilan Agama Tanggamus yang semuanya beragama Islam. Nilai-nilai keadilan (al-adalah), kejujuran (ash-shidq), rendah hati (tawadhu’) dan lain-lain sebagaimana telah tersebut di atas, adalah nilai-nilai luhur yang tidak hanya diakui oleh ajaran Islam, bahkan secara teologis, Islam memberikan nilai ibadah yang berorientasi ukhrawi bagi pelaksanaan nilai-nilai tersebut, dengan demikian aparatur peradilan dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara ikhlas dan bersungguh-sungguh sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Nilai-nilai budaya lokal juga diakui sebagai faktor pembentuk budaya organisasi, maka dalam hal ini budaya Lampung patut dipertimbangkan sebagai kekuatan kultural yang sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir aparatur maupun stakeholder yang berkepentingan terhadap Pengadilan Agama Tanggamus. Ada beberapa aspek positif budaya lampung yang secara konstruktif mendukung nilai-nilai tersebut di atas, antara lain : piil pesenggiri.

Piil pesenggiri merupakan falsafah hidup orang Lampung yang sudah ada sejak terbentuk dan tertatanya masyarakat Lampung. Piil (berasal dari kata fi’il=bahasa Arab) artinya perilaku. Sedangkan pesenggiri maksudnya bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu hak dan kewajiban. Piil pesenggiri merupakan potensi sosial budaya daerah yang memiliki makna sebagai sumber motivasi agar setiap orang dinamis dalam usaha memperjuangkan nilai-nilai positif, hidup terhormat, dan dihargai di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Merujuk berbagai nilai-nilai utama tersebut, dikaitkan dengan tuntutan masyarakat yang menghendaki terwujudnya penegakan hukum yang berwibawa, reformasi birokrasi dalam kerangka realisasi good govermance sehingga amanat kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan konstitusi dapat terwujudan negara yang, juga mengacu pada asa-asas umum penyelenggaraan negara, seperti : asas kepastian hukum, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas dan akuntabilitas, maka sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan badan peradilan yang agung, Pengadilan Agama Tanggamus telah merumuskan shared values of Tanggamus Religious Court yaitu nilai-nilai bersama yang dapat dijadikan sebagai landasan perilaku aparatur sekaligus budaya organisasi yang disingkat “SIGER”, yang terdiri atas 5 komponen :

1. SERVICE

Berorientasi pada pelayanan prima di bidang hukum dan keadilan

2. INTEGRITY

Menjunjung tinggi kode etik profesi, nilai-nilai utama badan peradilan serta asas-asas umum penyelenggaraan negara.

3. GLORY

Semangat dan tekad untuk mewujudkan keagungan hukum dan keadilan serta penegakannya

4. EMPOWERMENT

Pemberdayaan seluruh aparatur pengadilan sesuai tupoksi

5. RELIGIOUS

Bekerja sebagai ibadah dan hidup besama dalam ikatan nilai-nilai keagaamaan yang bernilai ibadah

 

Statistik

Kunjungan : 236487

Profil Pejabat

Pilihan Bahasa

Situs Penting

mahkamah agusng

badilum

dilmitum

badilag

pembaruan

putusan ma

 

Aplikasi online

JDIH MARI

Jajak Pendapat

Layanan PA Tanggamus menurut anda?